Rabu, 21 Juli 2021

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1

KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 2.1

 

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 

Oleh Ruli Aspirini, S.Pd

CGP Kab. Pandeglang

 


(Sumber : www.google.com)

 

Guru merupakan profesi yang sangat luar biasa. Disadari atau tidak, setiap hari kita sebagai guru harus berhadapan dengan murid yang begitu beragam. Baik itu beragam dari sisi kesiapan belajar, minat, gaya belajar, dan lain-lain. Dari segi minat misalnya ada murid yang suka bermain musik, berolah raga, memasak atau mungkin melakukan percobaan-percobaan di laboratorium. Hal ini kemudian menuntut kita untuk mampu menerapkan proses pembelajaran yang dapat mengakomodir keberagaman tersebut, sehingga tujuan pembelajaran yang kita harapkan dapat tercapai. Salah satu solusi yang dapat kita lakukan adalah dengan menerapakan Pembelajaran Berdiferensiasi. Apa itu Pembelajaran Berdiferensiasi? Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi semua keputusan yang dibuat oleh guru berorientasi kepada kebutuhan murid.

 


(Sumber : Dokumen Pribadi)

 

Bagaimana penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi di kelas? Pembelajaran Berdiferensiasi diawali dengan kegiatan memetakan kebutuhan belajar murid. Tomlinson berpendapat bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek, yaitu kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid dan profil belajar murid.

1)      Kesiapan belajar (readiness)

Kesiapan belajar adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Kesiapan belajar tidak berkaitan dengan tingkat intelektualitas (IQ). Namun, berkaitan dengan informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Dengan adanya pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar, guru dapat memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran sehingga kebutuhan belajar murid dapat terpenuhi.

Dalam menentukan kesiapan belajar murid pada suatu konsep, kita dapat melakukan asesmen untuk menentukan apa yang dipahami murid tentang konsep tersebut dan mengamati murid ketika menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas. Guru juga bisa bertanya tentang apa yang diketahui oleh murid.

2)      Minat murid

Minat merupakan salah satu faktor yang mendorong murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Setiap murid di kelas mungkin memiliki minat yang berbeda-beda. Ada murid yang berminat pada seni, matematika, sains, drama, memasak dan lain sebagainya. Dengan mengenali minat murid, guru dapat merencanakan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Guru dapat menentukan minat murid melalui asesmen diagnosis awal.

3)      Profil belajar murid

Profil belajar murid berkaitan dengan banyak faktor seperti bahasa, budaya, keadaan keluarga, dan lain-lain. Selain itu juga profil belajar berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Di bawah ini merupakan jenis-jenis gaya belajar yang dimiliki murid dan perlu diketahui guru agar dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi.

 



(Sumber : https://www.cikgutere.com)

 

Tujuan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasakan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Setiap anak di kelas memiliki profil belajar sendiri. Seorang guru hendaknya dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar di kelas.

Setelah melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid, maka kita kemudian memilih strategi diferensiasi yang akan kita terapkan agar kebutuhan belajar murid dapat terpenuhi dan hasil belajar yang optimal dapat tercapai. Tiga strategi dalam Pembelajaran Berdiferensiasi, yaitu sebagai berikut :

1)      Diferensiasi Konten

Diferensiasi konten berkaitan dengan apa yang kita ajarkan kepada murid. Hal ini merujuk pada strategi membedakan pengorganisasiaan dan format penyampaian konten. Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum.

2)      Diferensiasi Proses

Diferensiasi proses berkaitan dengan bagimana murid akan memahami memaknai apa informasi atau materi yang akan dipelajari. Diferensiasi proses merujuk pada strategi yang membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (conten) materi. Cara melakukan diferensiasi proses diantaranya sebagai berikut : a) kegiatan berjenjang, b) pertanyaan pemandu/tantangan, c) membuat agenda individual untuk murid, d) memvariasikan lama waktu untuk mengerjakan tugas, e) mengembangkan kegiatan yang dapat mengakomodasi beragam gaya belajar visual, audiotori, dan kinestetik, e) menggunakan pengelompokan yang fleksibel sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan minat murid.

3)      Diferensiasi Produk

Diferensiasi produk berkaitan dengan  tagihan apa yang kita harapkan dari murid. Produk merupakan hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukan murid kepada kita. Produk dapat berupa karangan, hasil tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram dan lain sebagainya. Hal yang paling penting adalah produk tersebut harus mencerminkan pemahaman murid dan berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Guru sebelum menentukan produk harus mempertimbangkan kebutuhan belajar murid.

Pembelajaran Berdiferensiasi sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Menurut Ki Hadjar tugas guru adalah menuntun tumbuh kembangnya anak sesuai dengan kodratnya masing-masing. Layaknya seperti seorang petani yang tidak bisa merubah padi menjadi jagung, begitu juga dengan kita sebagai guru tidak bisa merubah kodrat anak. Namun, kita dapat membantu anak untuk mengembangkan bakatnya dengan menciptakan lingkungan yang mampu membantu untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya tersebut. Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi inilah hal tersebut dapat terwujud.

Pembelajaran Berdiferensiasi akan mudah terwujud jika guru mampu melaksanakan peran guru penggerak dengan baik, tentu saja sang guru terlebih dahulu harus mampu menjiwai  nilai  guru penggerak terutama nilai berpihak pada murid. Tanpa keberpihakan pada murid maka lingkungan yang mendukung proses Pembelajaran Berdiferensiasi tidak akan terwujud. Seperti apakah lingkungan yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi? Lingkungan yang mendukung Pembelajaran Berdiferensiasi adalah lingkungan dimana kehadiran setiap orang dihargai, setiap orang merasa aman, satu sama lain saling membantu mengembangkan kemampuannya, satu sama lain saling mendukung, semua murid mendapatkan semua yang ia butuhkan, dan guru dan murid berkolaborasi untuk mencapai kesuksesan. Lingkungan ini dibangun di atas komunitas belajar yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang memiliki jiwa pembelajar.


(Sumber: https://www.pngwing.com)

 

Dalam membangun komunitas belajar, tentu saja guru membutuhkan kemampuan kolaborasi yang baik. Guru harus mampu merangkul berbagai pihak, baik itu kepala sekolah, orang tua, guru BK dan rekan sejawat lainnya. Komunitas belajar dapat menggunakan   Pendekatan IA  dalam memetakan kebutuhan belajar murid. Melalui pendekatan IA, guru akan mengetahui potensi atau kekuatan yang dimiliki oleh setiap murid di kelas.  Tugas guru kemudian adalah memotivasi para murid agar mau mengoptimalkan segala kekuatan yang dimiliki.  

Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi akan mempermudah terwujudnya budaya positif di sekolah yang kemudian akan bermuara pada terwujudnya visi sekolah. Seperti kita ketahui bahwa, visi sekolah hendaknya mendukung terciptanya lingkungan belajar yang ramah bagi semua pihak, baik itu murid, guru, maupun orang tua. Melalui Pembelajaran Berdiferensiasilah, setiap orang akan terbiasa untuk saling menghargai, saling mendukung dan berkolaborasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan Pembelajaran Berdiferensi memiliki dampak yang besar bagi terwujudnya visi sekolah.

 


Selasa, 29 Juni 2021

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4

 

BUDAYA POSITIF SEKOLAH

Oleh Ruli Aspirini, S.Pd

CGP Kab. Pandeglang

 

(Sumber : Dokumen Pribadi)

 

Sekolah merupakan institusi pembentukan karakter. Agar murid memiliki karakter yang diharapkan maka sekolah harus memiliki budaya positif. Budaya positif di sekolah adalah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Kita selama ini telah mengenal berbagai budaya positif di sekolah, misalnya budaya 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun) dan budaya-budaya positif lainnya yang ada di sekolah. Budaya positif di sekolah akan terwujud jika semua komponen sekolah ikut serta dalam membangun budaya positif tersebut, terutama kita sebagai guru yang memegang peranan sentral. Sebagai seorang guru penggerak, kita harus mampu menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah. Dengan budaya positif yang dimilikinya, sekolah diharapkan akan mampu melahirkan murid-murid yang memiliki profil pelajar pancasila.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang tujuan pendidikan, yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara juga mengajarkan kita bahwa tugas guru adalah “menuntun” tumbuh kembangnya anak dan setiap anak memiliki kodratnya masing-masing.

(Sumber : Dokumen Pribadi)

        Oleh karena itu sebagai guru penggerak, kita harus mampu membangun komunitas di sekolah yang memiliki tekad dan semangat sama, yaitu untuk melahirkan murid-murid yang memiliki profil pelajar pancasila, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berahlak Mulia, mandiri, bergotong-royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif sehingga diharapkan tujuan pendidikan dapat terwujud.

                                    

(Sumber : https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/?page_id=2817)

        Profil pelajar pancasila akan terbentuk jika guru mampu melaksanakan peran guru penggerak dengan baik, diantaranya menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Peran guru penggerak tersebut akan terwujud jika guru memiliki nilai guru penggerak, yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid.

Dalam upayanya untuk mewujudkan budaya positif di sekolah yang kemudian akan berdampak pada terwujudnya profil pelajar pancasila, guru penggerak tentu harus mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengembangkan visi bersama tentang apa yang ingin dicapai sekolah. Dalam kaitannya dengan pencapaian visi kita dapat menggunakan Pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). Melalui IA, guru penggerak bersama-sama dengan seluruh komponen sekolah baik kepala sekolah, rekan sejawat, murid, orang tua maupun komponen sekolah lainnya menganalisis potensi atau kekuatan yang dimiliki oleh seluruh komponen yang ada di sekolah.

Melalui pendekatan IA, guru penggerak akan mengetahui potensi atau kekuatan yang dimiliki oleh seluruh komponen di sekolah, terutama guru. Tugas guru penggerak adalah memotivasi para guru agar mau mengoptimalkan segala kekuatan yang dimiliki, kemudian mengajak mereka untuk berkolaborasi dalam membangun budaya positif di sekolah. Tentu saja dalam hal ini dibutuhkan kemampuan kolaborasi dari seorang guru penggerak. Melalui komunikasi yang efektif dan keteladanan dari guru penggerak, kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan oleh guru penggerak diharapkan  akan menular kepada rekan guru yang lain.

Penerapan budaya positif dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari dilandasi oleh disiplin positif. Disiplin positif merupakan sebuah model disiplin yang difokuskan pada perilaku positif agar murid menjadi pribadi yang penuh hormat dan bertanggung jawab (Nelsen.,Lott & Glenn, 2000). Dalam disiplin positif guru harus mampu membangun hubungan yang baik dengan murid. Diantaranya dengan bersikap baik dan tegas secara bersamaan, membantu murid merasa dihargai dan menjadi bagian dari kelas, berfokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap, melatih murid untuk memiliki keterampilan social dan mengajak murid untuk menemukan dan menggunakan kekuatan mereka. Disiplin positif tidak mengenal adanya hukuman, namun konsekuensi.

Melalui disiplin positif diharapkan murid akan mampu memahami perilaku mereka sendiri, mampu mengambil inisiatif, serta bertanggung jawab atas pilihan mereka serta mampu menghargai diri mereka sendiri serta orang lain. Dalam penerapannya, disiplin positif tentu saja membutuhkan keterlibatan semua komponen sekolah termasuk orang tua di rumah, agar perilaku disiplin berjalan dengan konsisten antara rumah dengan sekolah. Sekolah dalam hal ini harus membekali orang tua dengan informasi tentang bagaimana cara mempraktekan disiplin positif di rumah.

Pada saat penerapan budaya positif dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari di kelas, seorang guru harus mampu berperan sebagai manajer. Dimana dalam hal ini guru hendaknya mengajak murid untuk membuat kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas merupakan langkah awal dalam membangun budaya positif di sekolah. Kesepakatan kelas diharapkan akan membantu pembentukan budaya disiplin positif di kelas, yang kemudian akan berdampak juga terhadap proses belajar mengajar yang menyenangkan bebas dari segala tekanan. Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif.


(Sumber : https://japanese.binus.ac.id)

 

Kesepakatan kelas berisikan harapan-harapan baik dari guru ke murid maupun sebaliknya dari murid ke guru. Dalam penyusunan kesepakatan kelas, guru berkolaborasi dengan murid. Satu hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan kesepakatan kelas adalah jangan terlalu banyak membuat aturan-aturan. Hal ini akan membuat murid merasa kesulitan bahkan kesepakatan kelas tersebut menjadi tidak bermakna sama sekali. Cukup 4 - 8 aturan saja untuk setiap kelas. Kesepakatan harus disusun dengan jelas sehingga murid dapat memahami perilaku apa yang diharapkan dari mereka. Penggunaan kalimat positif menjadi hal yang wajib dalam kesepakatan kelas, karena kalimat positif akan lebih mudah dipahami dibandingkan kalimat negative, seperti penggunaan kata “dilarang” atau “tidak” sebaiknya tidak dilakukan. Kesepakatan kelas yang telah disusun tentu saja tidak mutlak berlaku untuk selamanya, tetapi perlu dilakukan evaluasi dan refleksi secara berkala, misalnya setiap awal semester. Berikut ini contoh kesepakatan kelas.


(Sumber : Dokumen Pribadi)

 

Setelah kesepakatan kelas, upaya yang dapat kita lakukan dalam mewujudkan budaya positif di sekolah adalah mengembangkan visi sekolah. Visi berisi harapan-harapan yang ingin dicapai sekolah. Melalui visi kita dapat mengetahui langkah-langkah apa yang harus kita lakukan dan tujuan yang ingin kita capai. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, melalui pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) kita hendaknya memanfaatkan semua kekuatan yang dimiliki oleh komponen sekolah dan berfokus pada hal-hal positif yang sudah berhasil dikembangkan di sekolah.

Visi sekolah yang akan dikembangkan hendaknya mendukung terciptanya lingkungan belajar yang ramah bagi semua pihak, baik itu murid, guru, maupun orang tua. Semua pihak merasa salaing menghargai satu sama lain dan para murid memiliki kebebasan untuk mengembangkan potensinya serta kebebasan untuk menyampaikan pendapat maupun harapan-harapannya. Visi sekolah juga hendaknya mendukung proses pembelajaran yang penuh dengan rasa saling menghormati dan saling peduli satu sama lain. Serta memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk terlibat dalam setiap kebijakan yang ada di sekolah.

Penjelasan di atas menyadarkan kita bahwa untuk membangun budaya positif  membutuhkan waktu yang tidak singkat, dibutuhkan konsistensi dan keterlibatan semua komponen di sekolah untuk bahu membahu membangun budaya positif. Sebagai seorang guru penggerak, kita harus mampu menjadikan budaya-budaya positif yang sudah kita lakukan di kelas (melalui kesepakatan kelas) menjadi budaya positif sekolah dan bahkan menjadi visi sekolah. Caranya tentu saja melalui aksi nyata kita yang dapat menjadi teladan bagi guru yang lain dan melalui kemampuan kita untuk mengajak semua komponen sekolah untuk berkolaborasi.

Semoga ikhtiar kita dalam mewujudkan budaya positif di sekolah dapat berjalan seperti yang kita inginkan. Aamiin.,

                                                                                              



Senin, 31 Mei 2021

AKSI NYATA MODUL 1.2

UPAYA MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN 
YANG MENYENANGKAN 
MELALUI KOMIK DAN WORDWALL 


Oleh Ruli Aspirini, S.Pd 
Calon Guru Penggerak Kabupaten Pandeglang

A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Setiap anak memiliki karakteristik masing-masing. Mereka memiliki potensi, minat, dan bakatnya sendiri. Peran guru adalah menuntun anak-anak tersebut sesuai dengan minat, bakat, dan potensinya. Dalam proses menuntut anak diberi kebebasan, namun pendidik harus tetap memberi arahan agar anak tidak kehilangan arah.

Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan bahwa pendidik hendaknya mendidik anak dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan alam dan zamannya sendiri. Kodrat alam berkaitan dengan tempat sang anak tinggal, kita tahu anak-anak tinggal di daerah yang berbeda yang kemudian berpengaruh terhadap kebiasaan mereka. Berkaitan dengan kodrat zaman saat ini kita sedang menghadapi era globalisasi dimana anak dituntut untuk memiliki keterampilan Abad 21 agar mereka memiliki daya saing.

Berdasarkan pemikiran di atas, pendidik hendaknya mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang melibatkan peserta didik dari proses perencanaan pembelajaran sampai refleksi. Peserta didik diberi kebebasan untuk mengemukakan gagasannya, diberi kesempatan untuk menemukan cara belajarnya. Sehingga pembelajaran akan terasa lebih bermakna bagi mereka.

Pandemi Covid 19 membuat perubahan besar dalam hidup kita, salah satunya dalam proses pembelajaran yang tadinya berlangsung secara tatap muka beralih menjadi Belajar Dari Rumah (BDR) menggunakan berbagai aplikasi, diantaranya google classroom, Rumah Belajar maupun WhatsApp. Sebagai seorang pendidik tentu saja kita tidak dapat menyerah dengan keadaan, kita justru dituntut untuk lebih aktif, kreatif dan inovatif. Kita dituntut untuk membantu peserta didik agar tetap semangat untuk belajar, diantaranya yaitu dengan memilih media pembelajaran dan metode pembelajaran yang menarik. Salah satu media pembelajaran yang pendidik gunakan dalam aksi nyata ini adalah komik sedangkan untuk menguji pemahaman peserta didik pendidik menggunakan games Wordwall.

 

B.     Tujuan

Adapun tujuan dari rancangan aksi nyata ini yaitu sebagai berikut :

1.      mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

2.      mewujudkan pembelajaran yang bermakna.

3.      mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan.

4.      meningkatkan keaktifan peserta didik.

5.      meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

6.      meningkatkan hasil belajar peserta didik.

 

C.    Deskripsi Aksi Nyata

Sebelum memilih metode dan media pembelajaran yang akan digunakan pendidik terlebih dahulu berdiskusi dengan peserta didik tentang perasaan mereka selama Belajar Dari Rumah (BDR). Sebagian besar dari mereka merasa bosan dan malas mengikuti pembelajaran Daring. Hal ini juga terlihat dari persentase peserta didik yang mengikuti pembelajaran daring melalui WhatsApp Group. Akhirnya pendidik mulai mencari solusi dari masalah yang terjadi. Pendidik memutuskan untuk membuat media pembelajaran yang mampu menarik minta peserta didik. Setelah mencari dari berbagai sumber diantaranya google dan Youtube serta berdiskusi dengan rekan sejawat di sekolah, pendidik memutuskan untuk membuat media pembelajaran komik. Pendidik mempelajari berbagai aplikasi komik yang ada, pendidik kemudian memutuskan untuk menggunakan aplikasi Pixton dan Canva. Setelah itu pendidik mencari aplikasi untuk menguji pemahaman peserta didik yang menarik dan tidak membosankan, setelah pendidik searching di google akhirnya pendidik memutuskan untuk menggunakan aplikasi Wordwall. Setelah komik dan soal di Wordwall selesai, pendidik kemudian melaksanakan proses pembelajaran.


Proses pembelajaran diawali dengan berdoa dan mengecek kehadiran peserta didik, kemudian dilanjutkan dengan ice breaking bermain tebak kata setelah peserta didik siap mengikuti pelajaran barulah kegiatan belajar dimulai. Pendidik membagikan komik tentang kehidupan manusia pada masa praksara. Komik dikemas dalam bentuk percakapan. Hal ini diharapkan akan membuat peserta didik memahami materi pelajaran. Setelah membaca komik, peserta didik kemudian ditugaskan untuk mendikusikan informasi yang merek atemukan dari komik yang mereka baca. Perwakilan kelompok ditugaskan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Setelah selesai, untuk menguji pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari, pendidik memberikan link Wordwall. Dimana peserta didik harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari dalam bentuk game Wordwall. Peserta didik dapat berkali-kali mengerjakan games tersebut, sampai mereka memperoleh nilai maksimal.

 



                          
Kegiatan Pembelajaran melalui media WhatsApp Group

                        

Contoh Komik Pembelajaran 

                 
Contoh soal dan papan skor yang terdapat pada games Wordwall
Siswa Kelas 7 sedang membaca Komik tentang Kehidupan Manusia pada Masa Praaksara




Siswa Kelas 7 sedang bermain games Wordwall tentang Kehidupan Manusia pada Masa Praaksara


D.    Hasil Aksi Nyata

Pembelajaran dengan menggunakan komik dan game Wordwall ternyata mampu menarik minat peserta didik. Komik membuat peserta didik tertarik dan termotivasi untuk mempelajari materi pelajaran, gambar-gambar yang terdapat pada komik dan materi yang dikemas dalam percakapan membuat peserta didik tidak merasa seperti sedang belajar, sehingga kegiatan pembelajaran terasa menyenangkan bagi mereka. Komik juga melatih kemampuan literasi peserta didik. Begitupun dengan dengan game Wordwall membuat peserta didik termotivasi dan tertantang untuk mampu menjawab soal-soal yang terdapat pada game Wordwall. Kesempatan yang lebih dari satu kali dalam menjawab pertanyaan pada games membuat peserta didik terus mencoba menjawab sampai mereka memperoleh hasil maksimal. Pertanyaan yang dikemas dalam bentuk games juga membuat peserta didik tidak merasa sedang di uji pemahamannya, tetapi mereka merasa sedang bermain.

 

   
Testimoni Peserta Didik 


E.     Refleksi Aksi Nyata

Pandemi Covid-19 bukan menjadi alas an bagi kita sebagai seorang pendidik untuk berputus asa dalam mendidik. Justru membuat kita terpacu untuk terus meningkatkan kompetensi diri. Diantaranya dengan membuat metode dan media pembelajaran semenarik mungkin, sehingga peserta didik kita yang sudah terlalu lama Belajar Dari Rumah (BDR) menjadi termotivasi kembali untuk belajar. Pembelajaran dengan menggunakan komik dan game Wordwall ternyata mampu menarik minat peserta didik yang kemudian berpengaruh terhadap kompetensi peserta didik. Komik membuat peserta didik bersemangat dalam belajar, gambar-gambar yang dikemas semenarik mungkin membuat mereka lebih bersemangat dalam membaca dibandingkan ketika membaca buku paket atau modul yang biasa mereka baca. Semangat untuk membaca tentu saja berpengaruh terhadap pemahaman peserta didik. Ditambah lagi dengan games diakhir pelajaran semakin membuat mereka bersemangat untuk belajar.

Adapun kendala yang dialami dalam pelaksanaan Aksi Nyata ini, yaitu masih ada beberapa peserta didik yang belum terlibat dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan mereka tidak memiliki Handphone, selain itu beberapa peserta didik kesulitan untuk mengakses game Wordwall karena daerah mereka susah sinyal.

 

F.     Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

Perbaikan yang akan pendidik lakukan, diataranya yaitu berkaitan dengan meningkatkan kompetensi pendidik dalam membuat komik yang lebih menarik dan mencari aplikasi-aplikasi pembuat komik lainnya. Selain itu pendidik juga berencana membuat soal games yang lebih bervariasi melalui aplikasi Wordwall. Peserta didik yang memiliki Handphone dan tidak memiliki serta rumahnya berdekatan, pendidik tugaskan untuk berkolaborasi. Agar semua peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Minggu, 30 Mei 2021

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.2

LATIHAN SOAL PAT IPS KELAS 8

  Assalamu'alaikum Wr.Wb

Apakabar sahabat IPS? 

Semoga kalian tetap semangat belajar IPS

Bagi kalian kelas 8 yang mau  menghadapi Penilaian Akhir Tahunan (PAT) Berikut ini Latihan soal yang dapat kalian kerjakan....

Silahkan klik tulisan di bawah ini!

PANDUAN TEKNIS KSN SMP DAN SILABUS KSN SMP TAHUN 2021

  Assalamu'alaikum Wr.Wb

Apakabar sahabat IPS? 

Bagi kalian yang sedang mempersiapkan diri mengikuti Kompetisi Sains Nasional (KSN) Tingkat SMP Tahun 2021. 

Berikut ini Panduan Teknis KSN SMP  dan Silabus KSN SMP Tahun 2021 

Silahkan klik tulisan di bawah ini!

PANDUAN TEKNIS KSN SMP TAHUN 2021

SILABUS KSN SMP TAHUN 2021

Semoga Sukses!!!

LATIHAN SOAL ASESMEN SUMATIF AKHIR TAHUN (ASAT) KELAS 8

 Assalamu'alaikum Wr.Wb Apakabar sahabat IPS?  Semoga kalian tetap semangat belajar IPS Bagi kalian kelas 8 yang mau  menghadapi  Asesme...